Nasi Uduk Kuntilanak

Nasi Uduk Kuntilanak

Dari namanya mengesankan sangat seram sekali :)

Kalau Anda pecinta nasi uduk sejati dan suka keluyuran malam, tak ada salahnya menjajal nasi uduk di Kedai Kuntilanak milik Pak Udin di Menteng Pulo. Nasi uduk nan hangat dan gurih sungguh pas menjadi selimut perut di tengah malam.

Jakarta nan riuh ini jelas gudangnya masakan nasi uduk. Di mana-mana ada. Mulai dari kelas berlauk komplet – sebutlah ayam plus empal daging – atau sekadar nasi uduk berulam tahu. Tapi, kedai nasi uduk yang satu ini sangat layak dijajal kelezatannya. Apalagi bagi mereka yang menjelajah di tengah malam. Nama tak resmi kedai ini adalah: Kedai Nasi Uduk Kuntilanak.

Kuntilanak? Jangan takut dulu. Nama kuntilanak bukan berarti yang berjualan perempuan berwajah pucat dengan rambut tergerai seperti sering kita tonton di tayangan horor lewat televisi atau bioskop.

Kedai ini, oleh pelanggannya, dinamai Kuntilanak karena baru buka saat tengah malam atau mendekati pukul 24.00, hingga subuh menjelang. Konon, di jam-jam inilah kuntilanak suka bergentayangan.

Kalau masih tak percaya, mampirlah ke kedai yang terletak di sekitar Pasar Menteng Pulo, tepatnya di Jalan Jembatan Merah, Jakarta Pusat. Bangunan kedai ini juga sangat sederhana, hanya berukuran 3 meter x 4 meter, dengan tempat duduk papan berjajar mengelilingi meja besar yang penuh dengan baskom berisi nasi dan lauk pauk. Daya tampung kedai ini juga tidak banyak, hanya mampu menampung 20 pembeli saja.

Dan, datanglah sesaat setelah kedai buka. Niscaya Anda akan menemukan nasi uduk panas mengepul di dalam baskom yang menebarkan wangi santan. Menurut Udin, si empunya kedai, nasi uduk ini dia buat dengan campuran daun serai, daun salam, dan santan.

Takaran bumbu-bumbu yang pas ini menghasilkan aroma wangi yang khas. Nasi uduknya terasa gurih beraroma santan. Untuk mendapatkan seporsi sajian ini, Anda cukup membayar Rp 4.000. “Pelanggan saya dari semua kalangan. Ada artis, orang kantor yang pulang malem, sampai anak malam yang selesai dugem,” ujar Udin.

Ia menjamin racikan nasi uduknya masih terasa hangat ketika menyentuh lidah, sehingga memang cocok disantap saat menjelang tanggal berganti. “Cara masaknya enggak berbeda, kok, dengan nasi uduk lain,” ungkap Udin.

Tentu tak hanya nasi uduk yang dijual Udin. Pria asli Betawi ini juga menyajikan sejumlah lauk pauk untuk menemani nasi uduk. Anda tinggal pilih sesuai selera. Ada ayam goreng, semur daging, empal, telur ceplok, telur dadar, tempe goreng, ati ampela, tahu dan tempe bacem, sate usus, dan, tak ketinggalan: semur jengkol. Nah, lauk favorit di kedai ini adalah empal dan semur jengkol.

Tak usah ragu untuk menggigit semur jengkol yang berbau khas itu. Nyess.., begitu empuk ketika beradu dengan gigi. Maklum, untuk menghasilkan masakan jengkol nan empuk, manis, dan gurih itu, Udin harus merendam dulu buah jengkol selama satu jam di air sebelum mencemplungkannya ke dalam kuah bumbu semur.

Rasanya belum lengkap kalau mengudap nasi uduk tanpa sambal. Nah, sambal cabai merah si kuntilanak ini juga mantap. Rasa pedasnya bakal membuat mata melek dan membuat nafsu makan kian membuncah.

Oh, ya, kalau Anda tak suka empal atau jengkol, ayam goreng atau semur daging di kedai ini juga layak dicicipi. Udin menggoreng garing ayam goreng ini sehingga terasa renyah namun dengan daging yang bisa disuwir. Pas untuk dipadukan dengan nasi uduk.

Harga per potong ayam atau daging semur itu sama dengan harga empal, pas banderol Rp 9.000 saja. Sedangkan si jengkol nan sedap itu Rp 4.000 per porsi. Untuk aneka tempe dan tahu, harganya Rp 2.000 saja per potong. Lantas, sate usus dan telor ceplok pun cuma Rp 3.000.

Hanya, untuk minuman, pilihannya terbatas. Udin cuma menyediakan segelintir macam minuman, yakni es jeruk, jeruk hangat, teh manis, dan es teh manis. Es jeruk dihargai Rp 4.000 dan teh manis Rp 2.500.

Tidak alergi kritik

Udin menceritakan, kedai nasi uduk ini buka perdana pada 1971 silam. Ketika itu, mertuanya yang mengelola. Estafet kepemilikan jatuh ke tangan istri Udin, Endang, sejak lima tahun silam.

Dari sejak buka, kedai ini tak mengusung menu lain selain nasi uduk. Nah, ketika dikelola pria berusia setengah abad ini, variasi lauknya diperbanyak. Maklum, pelanggan kedai ini juga terus bertambah.

Udin pun mengungkapkan rahasia kedai yang tetap laris ini. Yakni, dia selalu ramah terhadap semua pelanggannya, tak peduli rakyat jelata dengan isi kantong pas-pasan hingga pejabat atau artis yang kantongnya dipenuhi rupiah. Selain itu, Udin juga tak sungkan menerima saran dari pelanggannya.

Kini, saban malam Kedai Nasi Uduk Kuntilanak ini menghabiskan minimal 5 kg jengkol, puluhan kilo daging dan ayam, serta 20 liter beras. “Kadang bisa sampai 25 liter,” ujar Udin. “Saya punya langganan untuk bahan-bahan,” imbuhnya.

Yang juga membuat pelanggan suka balik lagi ke sini, kedai ini selalu bersih. Tak hanya itu, meski kelas kakilima, suasana warung Nasi Uduk Kuntilanak cukup bersih. Dipastikan Anda betah. Apalagi warung ini selalu memutar musik dari radio. “Biar agak ramai,” seloroh Udin.

Alamat : Jl.Menteng Pulo, Gang Karya 3 No. 23 , Menteng – Jakarta Pusat

 

Jakarta - Nasinya mengepul hangat dan wangi. Lauknya pun bisa pilih sesuka hati. Disuap dengan empal yang empuk gurih, tempe goreng yang tipis renyah, plus sate usus yang kenyal empuk. Hmm.. sedap! Dicocol sambal yang menggigit plus emping yang tipis rasanya makin dahsyat! Yuk, sahur di sini!

Mencari makan sahur yang sedap dan mantap plus murah memang tidak mudah. Gara-gara cerita soal nasi uduk jadilah menjelang pukul 12 malam kami melacak keberadaan Nasi Uduk Kuntilanak di kawasan Jembatan Merah, Manggarai, tepatnya di pasar Menteng Pulo. Warung ini baru buka pukul 24.00 tiap hari. Mungkin karena itu diberi sebutan 'kuntilanak'.

Di tengah malam tentu saja pasar mulai disibuki dengan pedagang sayur yang membongkar muatan dan menata dagangan. Warung nasi uduk berada di bagian agak ujung jalanan pasar. Bentuknya seperti warteg biasa, dengan papan bercat biru, lemari pajang yang lebar plus beberapa kursi dijajar di sebuah meja panjang sederhana.

Karena baru 30 menit lewat pukul 12 malam, warung belum dipadati pelanggan. Yang penting, lauknya masih komplet, panas mengepul. Namun, begitu mendekati lemari tempat memajang lauk-pauk, kamipun jadi bingung. Kok banyak ya pilihannya dan semuanya menggiurkan!

Nasi uduk yang warnanya agak kusam, panas mengepul di dalam baskom plastik, menebarkan wangi santan. Jajaran lauk yang bisa dipilih antara lain ayam goreng, empal, tahu goreng, tempe goreng, tahu dan tempe bacem, mi goreng, rendang daging, semur kentang, telur mata sapi, telur mata sapi yang ditumis dengan kecap dan cabai, satai usus, hati dan ampela ayam.

Hmm... pilihan laukpun akhirnya jatuh pada empal, ayam goreng, tahu bacem, sate usus dan tempe goreng. Jumlah lauk yang disediakan cukup banyak karena ditata dalam baskomdan piring besar. Makin malam menjelang pagi biasanya pengunjung juga makin padat. Bisa dibungkus atau dimakan di tempat!

Karena pengunjung yang belum ramai maka kami bisa duduk manis menikmati sepiring nasi uduk berikut lauk pilihan. Kalau dilihat dari jenis lauknya, racikan nasi uduk ini bukan gaya asli Betawi tetapi lebih gaya warteg saja. Namun, konsistensi menyajikan lauk yang segar, beragam dengan harga terjangkau merupakan andalan para pekerja malam.

Nasi uduknya sedikit pera tetapi empuk, wangi dan terasa gurih santan yang mantap. Sekali gigit terasa gurihnya kedelai yang padat merapat pada irisan tipis tempe goreng. Empalnya juga empuk dengan aroma ketumbar dan bawang yang enak. Yang paling berkesan justru ayam goreng plus satai usus ayamnya.

Kulit ayam gorengnya yang berkerut renyah garing, mudah dikupas. Sementara daging ayamnya lembut gurih dengan bumbu gurih bawang yang wangi. Sate usunya juga bersih, rapi dibentuk dalam tusuk satai. Nyam.. nyam.. makin mantap disuap dengan nasi gurih dan cocolan sambal yang menggigit.

Makin larut malam, rombongan ABG dan beberapa keluarga mulai memadati warung yang dikelola oleh bu Endang dan keluarganya sejak tahun 1970 an ini. Suasana warung yang tenang, bersih, dan para kucing yang berseliweran, serasa bagai makan sahur di rumah. Apalagi pos keamanan di samping warung ini memutar lagu-lagu Koesplus cukup keras. Waduh, makin top dan asyik makan sahur kami!

Ternyata buat menikmati makan sahur yang nikmat plus suasana bersih dan 'full music' ini tidak perlu biaya besar. Seporsi nasi uduk, ayam goreng, tempe bacam dihargai Rp 11.000,00 sedangkan nasi uduk dengan empal, sate usus dan tempe goreng dihargai Rp 14.000,00. Nah, kalau ingin makan sahur dengan suasana beda, mampir saja nanti malam jam 24.00 di warung ini!

Alamat : Jl.Menteng Pulo, Gang Karya 3 No. 23 , Menteng - Jakarta Pusat

Kaki Lima

Related Listing

Place Your Review

Rate this place by clicking a star below :

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Inquiry

Captcha Verification
captcha image

This Site Power Support by

www.megabisnis.com
www.servegue.com